Selasa, 22 Juli 2008

SHAHAB 3 DAN DILEMA KEAMANAN

SHAHAB 3 DAN DILEMA KEAMANAN
Oleh: Sugiarto Pramono

Kini Amerika Serikat (AS) benar-benar telah dibuat gerah untuk kesekian kalinya oleh Iran. Alih-alih menghentikan program nuklirnya, Iran justru memamerkan rudal-rudal buatannya. Ulah negara yang satu ini memang lain dari yang lain. Seakan telah putus “urat saraf takut”nya, Presiden Irak, Ahmadinajed, begitu lantang menantang Hegemoni AS. Kendati berbagai negosiasi untuk menghentikan program nuklir Iran telah dilancarkan oleh AS dan sekutunya. Itu ternyata belum cukup membuat hati Najed luluh. Langkah Iran dibawah mantan Wali Kota Teheran itu, semakin mantap dengan dukungan kuat warga Iran.
Sebuah pertunjukan mengagetkan telah digelar Iran, selama dua hari berturut-turut (8-9 Juli), Garda Revolusi Iran mengadakan uji coba rudal. Sedikitnya 9 rudal telah diluncurkan di teluk Persia dan selat Hormuz. Shahab 3, merupakan rudal mutakhir Iran, setelah dua rudal pendahulunya Shahab 1 dan 2. Berbeda dengan Shahab 1 yang memiliki daya jangkau mencapai 280 km, dan Shahab 2, dengan daya jelajah 500 km, Shahab 3 memiliki daya jelajah yang lebih jauh, yaitu 1. 350 km. Ini artinya bahwa negara-negara yang berada dalam radius 1. 350 dari Iran, bisa dijangkau oleh rudal ini. Dan Israel, sekutu sang adi daya, termasuk negara yang berada dalam radius tersebut.
Uji coba rudal yang dilakukan pasukan elit Iran itu, merupakan respon cepat dari pengumuman Armada V AS yang berbasis di Bahrain, yang akan mengadakan latihan militer besar dalam beberapa hari. Dan yang paling menarik adalah bahwa rencana latihan tersebut ternyata merupakan reaksi dari pernyataan Panglima Garda Revolusi Iran Ali Shihrazi, yang akan menutup atau menghambat arus lintas di selat Hormuz yang strategis. Serta lebih jauh lagi, sebagaimana dikutip harian Kompas, Rabu 9 Juli 2008 Ali Shirazi meyatakan, “Tel Aviv dan Armada kapal AS di teluk Persia akan menjadi sasaran Iran jika Iran mendapat serangan kelak”.
Secara strategis, uji coba rudal yang dilakukan Iran, merupakan ancaman bagi AS dan sekutunya Israel. Nilai ancaman itu semakin berarti bagi keduanya, terutama, karena terjadi dalam kontek perseteruan AS-Iran dalam isu nuklir Iran. Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice, mengungkapkan kekhawatiran negaranya, sebagaiman dikutip oleh harian Kompas: “Uji coba itu menjadi bukti nyata ancaman rudal Iran. Mereka yang selama ini berlawanan dengan kami dan yakin tidak ada ancaman rudal dari Iran harus berbicara dengan Iran, kini saatnya Iran melaksanakan kewajibannya kepada Dewan Keamanan PBB”. (Kompas, 10 Juli 2008).
Dilema Keamanan
Para analis berhaluan realis, memahami, sistem politik internasional sebagai sistem anarki. Negara-negara bersifat independen, dan tidak ada satu pun otoritas yang berada diatasnya. Dalam sistem yang anarki itulah suatu negara dengan negara lainnya terkunci dalam siklus ketakutan. Mereka saling curiga mencurigai dan tidak percaya dengan yang lain.
Mereka beranggapan, tidak ada yang menjamin keselamatan dirinya selain kekuatan yang ia miliki. Sehingga setiap Negara selalu berupaya untuk memperkuat diri dengan menambah, baik secara kuantitas maupun kualitas, kemampuan militernya. Upaya Negara untuk meningkatkan keamanannya dengan menambah, memperbaharui atau apapun yang bersifat memperkuat diri, secara otomatis akan dipahami oleh Negara lain sebagai ancaman. Karena terancam maka Negara itu pun akan memperkuat diri. Hal ini kemudian dipahami lagi sebagai ancaman oleh Negara lawannya sehingga ia pun semakin memperkuat pertahanannya. Peristiwa ini berlangsung terus menerus sehingga sampai pada level yang sangat genting. Inilah yang disebut dilema keamanan.
Kendati Presiden Iran, Ahmadinajed, telah menyatakan, kekawatiran AS-Israel tidaklah beralasan. Dan di sisi lain, seperti di kutip dari Harian Israel Harretz, kepala staf gabungan angkatan bersenjata, Michael Mullen, telah mengirim pesan kepada Israel bahwa AS tidak memberikan lampu hijau pada Israel untuk melancarkan serangan ke Iran (Kompas, 9 Juli 2008). Namun bukan berarti pola dilema keamanan yang terjadi di antara negar-negara terkait itu tidak akan berkembang sehingga menjadi semakin genting.
Dilema keamanan yang semakin genting ini akan naik pada level berikutnya, yaitu perang. Perang dunia adalah contoh yang bagus untuk menjelaskan dilema keamanan. Walaupun perlombaan senjata yang terjadi di antara Negara-negara Eropa kala itu bukanlah satu-satunya faktor pendorong perang, namun merupakan faktor dominan. Sehingga, walaupun tidak kita harapkan, dilema keamanan yang terus-menerus terjadi di antara negara–negara terkait akan menggiring keduanya dalam “lembah” peperangan.
Mempertanyakan peran PBB
Tragedi 11 september 2001, membuat AS teramat gerah. Dan menjadi titik tolak perang melawan teroris. Dengan alasan perang terhadap teroris inilah AS memporak porandakan Afganistan. Belum lagi kekecewaan masyarakat dunia terobati oleh aksi sepihaknya, maret 2003 AS kembali meluluh lantahkan sebuah bangsa dan peradapan, kali ini Irak. Dengan alasan kepemilikan senjata pemusnah masal dan demokratisasi Irak AS membombardir Baghdad. gelombang anti perang masyarakat dunia tak membuat AS bergeser se inci pun dari niatnya meng invasi Irak, negara merdeka yang berdaulat itu.
Setelah Afganistan dan Irak, negara yang dianggap ancaman bagi AS, adalah Iran. Kecuali itu, AS masih menyimpan rentetan nama-nama negara yang dianggap akan menjadi batu pengganjal “perdamaian dunia”, setidaknya versi AS, diantaranya adalah Kuba, Suriah dan Korea Utara. Kendati senjata pemusnah masal tidak pernah ditemukan di Irak setelah ditaklukannya Baghdad. Dan Osamah bin Laden tidak pernah ditemukan di Afganistan setelah diluluh lantahkannya negeri ini. AS masih belum malu untuk menggunakan isu yang sama dalam menekan Iran.
Dengan berbagai dalih yang kebenarannya masih menjadi tanda Tanya besar, seperti demokratisasi, terorisme, nuklir, AS tidak segan-segan untuk membumi hanguskan sebuah bangsa dan peradapannya. Yang paling memperihatinkan lagi adalah dengan kekuatan militernya arogansi AS semakin menjadi-jadi.
Kini dalam krisis Nuklir Iran, sudah semestinya PBB memasang kuda-kuda kuat. Jangan sampai tragedi Irak, terulang pada Iran. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan lembaga dunia yang bertugas menjaga perdamaian dunia. Setelah Liga Bagsa-Bangsa gagal mencegah terjadinya Perang Dunia II, kini PBB sebagai organisasi penggantinya di tantang untuk menjaga perdamaian dunia.
Kegagalan mencegah invasi AS ke Afganistan dan Irak sudah layaknya membuat PBB lebih serius menangani krisis AS-Iran. Sehingga sangat patut jika kemudian sebuah pertanyaan dilontarkan, masih layakkah PBB dipertahankan, jika lembaga perdamaian dunia itu ternyata masih saja belum mampu untuk mencegah perang?.

Tidak ada komentar: