Selasa, 22 Juli 2008

Uni Mediterania

UNI MEDITERANIA DAN NUKLIR TIMUR TENGAH
Oleh: Sugiarto Pramono

Sebuah langkah strategis guna meneteralisir krisis nuklir di Timur Tengah (Timteng) tengah dirintis. Nicolas Sarkozy, Presiden Prancis, adalah penelur gagasan tersebut. Keberhasilan Eropa dalam menyelesaikan konflik kawasan, memberikan inspirasi pada Sarkozy untuk menularkan pada Timteng. Dengan mengundang 42 perwakilan negara-negara di kawasan Mediterian Sarkozy bermaksud menjadikan Paris sebagai pusaran perdamaian kawasan.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh 27 perwakilan dari negara-negara Eropa, dan sejumlah negara-negara dari Timteng dan Afrika Utara (Suara Merdeka: Selasa, 15 Juli). Dengan menamakan diri Uni Meditarian sekelompok negara tersebut mensepakati, terwujudnya Timteng yang bebas senjata pemusnah massal, (Kompas Senin, 14 Mei).
Berakhirnya perang dingin, yang ditandai dengan runtuhnya imperium Uni Soviet kontan menghadirkan iklim yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Isu-isu pada era perang dingan lebih bersifat konfliktual ideologis dan terjadi pada level global. Sedangkan isu-isu kontemporer lebih bersifat konfliktual etnis, integrasi nasional dan terjadi pada level regional. Selain itu, isu ekonomi juga berangsur-angsur menguat menggeser isu perang, walaupun masih menyisahkannya.
Karena konflik terjadi pada level regional maka upaya-upaya untuk menanganinyapun dilakukan pada level regional. Berbagai kerjasama antar negara hingga pembentukan organisasi supranasional dalam satu kawasan regional antara lain bertujuan untuk itu.
Berdirinya Uni Meditarian menjadi tonggak baru bagi uapaya penyelesaian konflik regional, Timteng. Timteng sebagi kawasan kaya minyak, menempati posisi yang sangat penting bagi kebutuhan minyak dunia. Sehingga membiarkan konflik terus bergejolak di sana, sama dengan mempertaruhkan keberlangsungan umat manusia yang sangat kuat ketergantungannya dengan sumber energi itu.
Langkah konstruktif ini diharapkan mampu menjadi obat penawar bagi konflik berkepanjangan di Timteng. Kendati berbagai rintangan datang menghadang namun semangat Sarkozy cukup kuat untuk menghempaskannya. Hadirnya 42 perwakilan negara-negara tersebut di Paris adalah bukti kegigihannya.
Tulisan ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan, seberapa efektifkah Uni baru itu dalam mewujudkan Timteng yang bebas senjata pemusnah masal?
Logika tukang Perang
Senjata pemusnah masal merupakan revolusi yang sangat radikal dalam dunia strategi. Kemampuan destruksinya sangat tinggi. Secara nalar penggunaan senjata pemusnah massal sangat tidak rasional. Karena tidak hanya musuh yang akan sirna, bahkan penggunapun akan ikut kandas. Kendati demikian kepemilikan senjata tersebut, membuat si empunya memiliki nilai tawar tinggi dan sangat diperhitungkan oleh lawan. Dengan logika ini akan mudah memahami sikap Amerika yang selalu menekan negara lain seminal Irak (pada masa sadam), Iran, Suriah Korut dan Kuba untuk menghentikan program nuklirnya.
Nuklir yang berpotensi menjadi alat perang mematikan, juga memiliki nilai manfaat yang tidak kalah besarnya bagi umat manusia. Pemanfaatan nuklir untuk pembangkit listrik misalnya akan sangat menekan biaya, dibanding menggunakan cara-cara konvensional. Nuklir ibarat pedang bermata dua, disamping manfaatnya yang tinggi, resikonya amat besar.
Di mata AS yang suka perang, akan melihat kemungkinan terburuk kepemilikan nuklir oleh suatu negara. Suatu negara, dalam kaca mata AS, akan cenderung menggunakannya sebagai alat perang dari pada sebagai media pembangunan. Cara berfikir seperti inilah yang membuat sang adi daya beranggapan, kepemilikan nuklir oleh suatu negara sebagai ancaman. Alih-alih mendukung pengembangan nuklir negara lain yang jelas bermanfaat, karena kecemasan ini, AS justru menekan untuk menghentikannya.
Dengan melihat begitu besarnya nilai manfaat yang akan ditimbulkan nuklir, tentu sangat disayangkan kalau nilai resikonya kemudian mengalangi umat manusia menuai manfaat darinya. Dan tidak menutup kemungkinan, disuatu saat nanti, nilai resiko nuklir akan dapat ditekan sekecil mungkin. Manusia dengan perkembangan tekhnologi dan peradapannya yang semakin maju optimis akan bisa melakukan hal itu.
Krisis Energi dan Energi alternatif
Seiring dengan semakin menipisnya cadangan minyak dunia, manusia akan semakin menyadari arti pentingnya energi alternatif. Nuklir adalah salah satunya. Upaya manusia untuk tetap eksis merupakan insting bawaan (struggle for survival). Karena itulah upaya untuk memiliki energi nuklir sebagai energi alternatif juga bisa difahami sebagai upaya untuk tetap eksis. Dalam artian, dengan adanya energi nuklir berarti kekawatiran terhadap semakin menipisnya cadangan minyak dunia akan teratasi oleh adanya energi nuklir sebagai pengganti.
Jika upaya untuk tetap eksis merupakan sifat alamiah, maka berbagai usaha untuk menghalangi upaya tersebut tidak hanya tidak produktif bahkan kontra produktif. Termasuk dalam kategori berjuang untuk tetap eksis adalah mengembangkan nuklir sebagai energi alternatif. Sehingga berbagai upaya yang dilakukan untuk mencegah suatu Negara memiliki nuklir tidak hanya tidak akan efektif, bahkan kontradiktif.
Dengan pemahaman seperti ini maka, larangan suatu Negara, atas kepemilikan nuklir, terhadap Negara lain yang hendak memilikinya adalah “dosa besar”. Dan nuklir sudah seharusnya menjadi hak setiap bangsa. Berangkat dari pemahaman ini maka upaya Uni Meditarian untuk menciptakan Timteng yang bebas nuklir perlu di revisi kembali.
Jika alasannya adalah untuk menciptakan perdamaian dan kesatuan Timteng maka membersihkan kawasan itu dari nuklir justru akan membuat konflik menjadi semakin rumit. Sebaliknya, karena upaya mencegah kepemilikan nuklir adalah kontra produktif, maka upaya yang bersifat mendorong kepemilikannya akan sangat produktif untuk peradapan umat manusia yang yang sejahtera dan beradab.
Secara lebih kongkrit, Uni Meditarian justru akan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi kawasan Timteng, justru dengan melakukan diplomasi dan negosiasi terhadap AS supaya menarik mundur pasukannya dari Timteng. Kareana sulit dipungkiri, kehadiran negara yang mengaku hendak menjaga perdamaian dunia itu justru semakin memperkeruh keadaan.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

assalaamualaikum. alhamdulillah muncul lagi penulis-penulis yang mudah-mudahan memberikan angin segar bagi kemajuan universitas wahid hasyim. horas, bravo, succes buat penjenengan.

Sugiarto Pramono mengatakan...

kang aku belajar banyak dari njenengan, ku doa kan sukses ya !